Langsung ke konten utama

Postingan

I'LL LET IT FLOW

Mataku yang sembab karena menangisimu. Setiap kali mengingatmu sama saja aku mengundang air mata untuk membasahi pipiku. Pertemuan kita yang indah memang tak seindah cerita akhirnya. Jangan tanyakan mengapa sampai saat ini aku masih merindukanmu! Aku sendiri tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Seolah-olah terjadi secara alamiah dengan sendirinya. Walau aku sadar kaubahagia bila dengan nya. Aku merasa perasaanku mati seketika. Aku tak dapat lagi membedakan mana tangis dan mana tawa, mana amarah dan mana cinta yang membuncah. Dunia semakin terlihat gelap dimataku. Setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, bahwa yang aku perjuangkan selama ini tak kan pernah bisa kumiliki. Dengan sikap mu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan aku mengapa aku bisa mencintaimu dengan cinta yang benar-benar tak kupahami. Aku selalu bertanya dalam diamku. Kenapa harus kamu? Yang meng...
Ku pejamkan mata ini, Mencoba tuk melupakan, Segala kenangan indah tentang dirimu, tentang diriku, Semakin aku mencoba bayangmu semakin datang, Merasuk hingga ke jiwa, Tuhan tolonglah diriku, Entah dimana dirimu berada, Hampa terasa hidupku tanpa dirimu, Apakah disana kau rindukan aku, Seperti diriku yang selalu merindukanmu. . . . . . Semestinya aku memang harus  memulai untuk melupakanmu. Hal itu yang selalu gagal aku lakukan. Mungkin karena magis kenanganmu yang terlalu tangguh, hingga aku tak mampu lagi untuk menghancurkannya. Semua kenanganmu yang begitu nyata yang selalu mampir disetiap malam sunyiku. Walau aku hanya melihat bayang semumu. Yeahh... bayang semu, aku hanya bisa merasakan rindu ini yang semakin merasuk tanpa bisa melihat raga nyatamu. Itulah yang setiap hari aku rasakan. Dan kamu pun mungkin tak peduli bahkan tak percaya bahwa hal itu yang setiap hari aku rasakan. Jujur, sebenarnya aku ingin sekali untuk menghapus semua bayang semumu d...

Tragedi...

Mendengar kabar bahwa dompetmu hilang, seketika aku kaget. Kala itu aku baca timeline twittermu, “Dompetku ilang”. “Jdeerrrr...” bagai petir di siang bolong. Langsung aku mention, tapi menunggu balasanmu yang tak kunjung datang aku beralih ke facebook. Melihat namamu yang sedang aktif, kuberanikan diriku untuk me-ngechat akunmu.           A: “ilang ndok ndi dompetmu?”           X: “lugur.”           A: “nang?”           X: “mari ngeloundry klambi.”           A: “KTP, ATM, SIM dll ilang?”           X: “kabeh.”           A: “terus manganmu?”           X: “utang.”          ...

Kamu...

Haii.. bagaimana kabarmu disana? Sehat kan J Sudah lama aku tak mendengar kabarmu. Aku rasa kamu baik-baik di sana. Berjuang menggapai mimpimu ya!! Jujur aku masih menunggumu untuk membalas rasaku ini. Tapi ku rasa penantianku Cuma sekedar angan belaka. Aku tahu, kau di sana pasti masih mengharapkan rasa dari orang lain dan itu bukan aku. Aku sadar kalau penantian ini hanya sia-sia, namun tak tahu kenapa, sulit sekali untuk menghilangkan rasa ini. Sepertinya ini sudah terlalu dalam. Satu kalimat yang sampai sekarang masih kuingat adalah “aku memaafkan, tp tidak melupakan”. Yeahh.. kalimat itu selalu mengganggu pikiranku, ntah kenapa. tiap kali kalimat itu mampir, aku selalu dibawa ke dalam masa “itu”. Kesalahan yang ku rasa sangat besar. Ingin ku kubur dalam-dalam namun aku selalu gagal melakukannya. Ntah sampai kapan rasa ini akan berakhir. 
Alam Kos’an Ini hari ke dua aku berada di kamar kosan. Walo kemarin sempat nangis sehari sampe akhirnya tertidur haha. Di sini aku masih sendiri. Tiada kawan. Kata ibuk kos nya kemarin ada yang sudah datang tapi balik lagi gara-gara belum betah di kosan. Hehe lucu. Tapi tu anak ga jauh beda sih sama aku. Aku kemarin juga nangis nostop haha. Kalo aku, betah nggak betah harus di paksa. Toh ini juga demi masa depanku. Aku yang sudah nentuin pilihan ini. Jadi harus aku jalani. Kalo kata pepatah sih berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang ketepian. Terima kasih untuk Keluarga Besarku J dari kemarin gantian nelpon aku hehe. Aku bakalan kuat kog. Aku berjuang untuk kalian semuaaaaa... miss yuuu sooo muchhh :* Tak lupa untuk para sahabat dan teman-teman, terima kasih untuk semngat dan dukungannya. Mari kita berjuang bersama-sama demi menggapai asa hehe. Horass Mojokertoooo!!!!

Moment Lebaran

Lebaran kai ini beda dengan lebaran tahun sebelumnya. Dibilang spesial juga nggak, tapi dibiang gak spesial nggak juga (bingungung ya hehe). H-2 Lebaran bukannya sibuk buat prepare menyambut hari sakral tersebut, aku malah lagi sibuk-sibuknya buat ngerjain tugas ospek. Fyuhh... Rasanya tiap hari ga bisa tidur nyenyak, tugas ospek selalu mampir di setiap mimpiku. Sialan! Gak pandang bulu juga, ntah itu mimpi baik atau mimpi buruk. Selalu mampir deh tuh tugas. Walau hanya sekedar mengucap “assalamu’alaikum”. Hidup dalam bayang-bayang tugas itu rasanya.... bagai kepleset di tepi jurang terus masuk ke hutan rimba dan akhirnya jatuh di perkampungan rimba yang isinya para tarzan dan binatang buas. Hhiiiii... seremm! Tiap hari harus rela begadang demi mencari inspirasi (duh.. kayak pencipta lagu :D). UB bikin ribet nih tugas ospeknya, di suruh ngarang “mengapa memilih Ub-lah” kalau di suruh jawab sih, takdir paleng hehe. Tapi lepas dari itu semua memang aku pingin masuk UB. Tahu kena...

L.I.F.E.

Untukku hidup adalah sebuah perjalanan, petualangan atau cara lain Tuhan memberitahu aku bagaimana caranya bersyukur. Aku tahu Tuhan pasti menentukan tujuan hidupku. Aku tidak perlu mencarinya. Aku hanya harus bersabar menunggu Ia menunjukkannya. Awalnya petunjuk-petunjuk itu tampak seperti benang kusut untukku. Aku bisa menyentuhnya tapi sulit untuk menemukan ujungnya agar aku bisa mengurainya berurutan. Aku bahkan sempat mengira semuanya adalah bencana. Lalu Tuhan membantuku untuk mengurutkan semuanya, menempatkan segala peristiwa yang diberikan-NYA sebagai reaksi berantai. Aku mengalami banyak hal dalam hidupku. Kadang aku menangis, kadang aku tertawa, kadang aku mengalami keduanya. Aku pernah mengalami masa-masa sulit dimana aku mengira tidak bisa bangkit lagi. Tapi beruntung aku segera sadar dan mengetahui bahwa hidup selalu berganti dan penuh kejutan. Hidupku seperti rantai yang terus sambung menyambung. Setiap kejadian mempengaruhi kejadian setelahnya. Aku merasa Tuhan be...