Langsung ke konten utama

20 Juni 2013

Apa yang aku rasakan malam ini, berasa makan gado-gado. Hehe macem-macem. Kaget, bingung, seneng, dan ga percaya. Ntah ini mimpi atau apa sehingga aku tak dapat menggambarkannya secara nyata. Nadiku serasa berhenti beberapa detik saat ku membaca pesan singkat darimu. Mungkinkah aku hanya Gede Rasa doang?? Ini terlalu mendadak untuk aku ketahui. Sekian lama aku berteman denganmu aku tak pernah merasakan adanya perlakuanmu yang spesial untukku. Semua terlihat biasa saja. Atau mungkin aku saja yang bodoh yang tak peka dengan perasaanmu.

Begitu piciknya aku yang tak menyadari adanya sosokmu di kehidupanku. Mungkin saat itu aku sedang dibutakan dengan “Cinta  Konyolku”. Yah, mungkin aku menyebutnya seperti itu. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku yang selalu kacau, aku yang ga peduli dengan perhatian-perhatian kecilmu dan aku yang sangat sibuk mempertahankan “cinta konyolku”. Gimana ga konyol?? Aku suka dengan seseorang yang jelas-jelas aku mengetahui arah perasaannya pada seseorang. Dan parahnya, hampir tiap hari saat itu aku meratapi cinta konyolku. Ini aku yang melankolis apa bego’?? hehe aku rasa dua-duanya deh.

Bisa dibilang ini cinta terlarang juga sih. Haduuu, kaya’ lagunya The Virgin nih hehe. Gimana ga terlarang, aku menyukai sahabat aku sendiri, OMG!! Sahabat atau teman dekat ya?? Ntahlah, yang penting aku menyebutnya sebagai sosok sahabatku. Rasa itu ga sengaja tumbuh subur di Kampung Hatiku. Yang awalnya kagum malah tumbuh subur jadi cinta *eh suka. Padahal aku ga ngasih pupuk sama sekali loh. Tiap hari aku cekokkin dengan pestisida beracun agar rasa ini cepet mati. Tapi bukannya mati malah tumbuh subur, kaya jamur di musim penghujan.

Yah, aku rasa cinta konyolku ini bertepuk sebelah tangan. Tapi bego’nya aku masih terus mempertahankannya sampai rasa itu sudah tak bisa kubendung lagi untuk aku sembunyikan. Dan pada akhirnya aku hanya berani mengunkapkannya melalui facebook atau twitter. Haha alay banget ga sih?? Ga kan hehe. Seperti kebanyakan remaja lainnya yang pengecut seperti aku ini hanya berani mengungkapkannya melalui media pintas, apalagi kalau bukan jejaring sosial.

Hampir tiap hari aku bikin status-status dan ngetwitt ngalay. Ntah apa yang aku rasakan saat itu, sepertinya saraf malu-ku terserang virus akut. Padahal kalau dipikir-pikir biasanya agak risih tiap kali lihat status yang alay detected kaya’ gitu. Eh sekarang malah aku yang terserang virus itu. Gara-gara itu aku makin kreatif bikin julukan-julukan aneh haha. Dari mulai Vung, sampai akhirnya menetap di “Sosok Berjaket” wkwk. Imajinasiku makin kreatif, tiap hari aku selalu berhayal, rajin ngetwitt sampai mengarang status panjang lebar. Mungkin saat itu sisi kreatif menulisku mulai terasah dengan alaminya. Kalau diingt-ingat kejadian tempo itu rasanya pingin ngakak dan nutupin muka pake’ koran haha.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Come Back

Finally, akhirnya nulis lagi. Terakhir upload 1,5 tahun yang lalu. Jeda yang sangat lamaaa... Emang amatiran banget, ga konsisten haha So, I am come back. Beberapa bulan ini dan kedepan adalah bulannya ujian kesabaran. Loh kok bisa? Yuhuu bulannya angkatanku pada sempro, ada yang mau sidang, ataupun ada yang mau wisuda dan bahkan banyak yang nikah. “Kon kapan nggik?” STOP dengan pertanyaan jahat itu! haha This whole thing got me thinking, apakah poin dari kita hidup adalah untuk cepet-cepetan ngelakuin sesuatu? Kenapa juga kita mesti cepet-cepetan ngelakuin sesuatu? Cepet-cepetan achieve sesuatu? Dan kenapa kita harus ngikutin pattern yang udah ada, yang udah dilakuin sama orang-orang sebelum kita? I am 22 now. Apakah aku seharusnya sudah sempro? “waduh penelitihan pendahuluan aja belum haha” Apakah aku seharusnya sudah wisuda? “helloo pendamping wisudamu belum ada nggik haha Oke itu nggak penting, pendamping ter-so sweet adalah keluarga”. Apakah seharusnya sekarang aku su...

JOMBLO

Waktu berjalan begitu cepat, hingga usia begitu gesit merambat. Detik yang berputar pun enggan untuk berhenti sejenak. Bahkan, hanya untuk sekedar menungguku bersiap dan berbenah diri. Detik berganti jam, hari berganti bulan, hingga tahun-tahun baru kembali berlabuh. Usia tak lagi tujuh, atau sepuluh, atau bahkan tujuh belas. Banyak orang bilang, “siapa calonnya?” Bagaimana denganmu? Hanya menunggu waktu yang tepat menurut Allah. Seperti janji-Nya yang tak pernah teringkari atau terpalsukan. Janji Allah itu pasti, bahwa setiap insan memang diciptakan berpasang-pasangan. Lalu apa yang perlu diragukan, ketika semua telah menjadi sebuah ketetapan-Nya? Aku memiliki jodoh, dan kamu pun juga demikian. Tak akan ada yang bisa menembus kokohnya dinding takdir, bahkan hanya untuk sekedar mengintip di balik tabir. Jodoh telah menjadi takdir-Nya yang amat sangat rahasia. Begitu rapi tersimpan di lauhul mahfudz hingga saatnya tiba. Kita hanyalah berkewajiban untuk berbanyak ikhtiar, serta perb...