Untukku hidup adalah sebuah perjalanan, petualangan atau
cara lain Tuhan memberitahu aku bagaimana caranya bersyukur. Aku tahu Tuhan
pasti menentukan tujuan hidupku. Aku tidak perlu mencarinya. Aku hanya harus bersabar
menunggu Ia menunjukkannya. Awalnya petunjuk-petunjuk itu tampak seperti benang
kusut untukku. Aku bisa menyentuhnya tapi sulit untuk menemukan ujungnya agar
aku bisa mengurainya berurutan. Aku bahkan sempat mengira semuanya adalah
bencana. Lalu Tuhan membantuku untuk mengurutkan semuanya, menempatkan segala
peristiwa yang diberikan-NYA sebagai reaksi berantai.
Aku mengalami banyak hal dalam hidupku. Kadang aku menangis,
kadang aku tertawa, kadang aku mengalami keduanya. Aku pernah mengalami
masa-masa sulit dimana aku mengira tidak bisa bangkit lagi. Tapi beruntung aku
segera sadar dan mengetahui bahwa hidup selalu berganti dan penuh kejutan.
Hidupku seperti rantai yang terus sambung menyambung. Setiap kejadian
mempengaruhi kejadian setelahnya.
Aku merasa Tuhan begitu baik dengan umatnya. Bagaimana
tidak? Kenikmatan itu seoalah tak dapat di ungkapkan dengan perkataan namun
juga harus selalu direnungkan di hati dan pikiran. Aku bagai manusia “angkuh” yang sulit untuk mengucap
syukur kepada-NYA. Bahkan sampai saat ini aku masih sangat mudah mengucap rasa “agh, hhh..., kenapa seperti ini?,
haruskah?, mengapa, dll”. Kata-kata mengeluh itu yang seharusnya aku
keramatkan tapi malah menjadi kebiasaan untuk mengucapkannya. Semua itu bagai magis
yang selalu menghipnotis untuk kuucapkan.
Padahal Tuhan selalu melimpahkan Rahmad dan Kasihnya padaku.
Setiap jam, menit, detik dan hingga saat ini aku masih diberikan nyawa untuk
aku menggapai segala mimpiku. Namun bangun tidur bagiku hal biasa, kadang aku
lupa mengucap rasa syukur pada-NYA. Yeah! sungguh angkuhnya aku sebagai makhluk
yang tak berdaya. Aku sering menyepelehkan kenikmatan itu hingga aku enggan
mengucap syukur pada-NYA.
Setiap detik untuk seorang pemain sepak bola sangatlah
berarti. Bagi mereka detik-detik tersebut menentukan sebuah kemenangan, selain
kekompakan suatu team. Tak akan ada yang di sia-siakan. Tapi tidak bagiku,
detik demi detik kadang kulewatkan begitu saja tanpa adanya hal yang berarti.
Selama ini aku terlalu membuang detik-detik emasku dengan sia-sia tanpa ada
sebuah penyesalan.
Detik-detik tersebut hanya banyak ku gunakan untuk mengeluh,
menyerah dan menangis yang tiada arti. Aku terlalu mudah mengeluarkan air mata
yang tiada guna itu. Begitu gampangya aku untuk melakukan 3M kali ini
singkatanya bukan Menguras, Menutup, dan Mengubur tapi Mengeluh, Menyerah dan Menangis. Padahal aku seharusnya menyadari
bahwa setiap masalah yang Tuhan berikan pasti terselip jalan keluar dan
hikmahnya. Rencananya begitu ajaib dan penuh kejutan. Kini aku menemukan tujuan
hidupku: Menjalani. Bersyukur. Dan
menjadi bahagia.
Komentar
Posting Komentar