Langsung ke konten utama

Cerpen Jadulku ;)

 “SENYUMMU MENGALIHKAN DUNIAKU”

Awalnya aku tak menyangka bahwa kisah ini terjadi saat catatan akhir sekolah SMP-ku. Lebih tepatnya saat aku menginjak kelas IX. Kisah ini bagaikan hadiah terindah diakhir masa-masa SMP-ku. Saat itu aku bersekolah di SMP N 1 Mojokerto. Jarak antara sekolah dan rumahku kurang lebih 3 Km. setiap hari aku mengayuh sepeda ke sekolah bersama temanku. Boleh dibilang aku termasuk gadis yang sederhana, karena aku tidak terlalu meminta ini itu (ho..ho..ho…menyanjung diri sendiri reeeek). Di penghujung akhir SMP ini ada sesosok laki-laki yang memikat hatiku. Dia adalah M. Zain Alvian, sebut saja dia Vian. Sebelumnya tak terlintas di benakku tentang sosok seorang Vian. Walaupun sebenarnya jarak antara rumah kita tidak terlalu jauh. Ini berawal dari saat aku satu kelas dengannya. Kesan pertama yang aku lihat  dari seorang Vian adalah “senyumannya”. Yeah, mungkin itu sangat konyol sih, kalau ini semua berasal dari sebuah senyuman. Senyuman yang bisa mengalihkan duniaku. Senyumannya begitu hangat dimataku. Ditambah lagi ke dua lesung pipitnya yang menghiasi pipinya. Setiap dia mengumbar senyumnya, imajinasiku berputar-putar. Sampai suatu hari saat pertama kali ku masuki kelas baruku. Terlihat sesosok laki-laki, berdiri di depan pintu di hiasi dengan cahaya yang menyelimuti wajahnya. Beberapa menit kemudian.
“Hey sob,kita duduk dimana nih? Kebanyakan bangkunya udah penuh” , sesosok lelaki tersebut tengah mengobrol di depanku’.
“walah, iya e bingung aku” celetuk salah satu temannya.
“owh kita duduk di belakang anak ini saja!? Daripada kita ntar nggak dapat tempat duuduk”.
Ya tuhan dia duduk di belakangku. Sumpah pada saat itu aku tak bisa menahan detak jantungku yang terus berdetak kencang, dag.. dig… dug… dag.. dig.. dug… Hatiku terus bertanya-tanya inikah yang namanya CINTA? Ya Tuhan ada apa denganku?? Perasaan apa yang tengah aku rasakan ini? Beruntun pertanyaan yang terus ada di benakku saat itu. Satu pun tak bisa ku temukan jawabannya pada saat itu.
* * *
            Sinar matahari ssetengah memaksa akhirnya menerobos ke arah jendela kamarku. Sinarnya yang silau membuat aku sontak bergerak dan cepat bangun dari tidurku. Aku langsung mengambil baju dan handuk kemudaian berlari kecil menuju kamar mandi. Anehnya orang rumah memandangku heran. Bukannya seneng aku nggak males lagi buat bangun pagi, eh malah geleng-geleng kepala melihat aku. Akhirnya setelah aku keluar dari kamar mandi terjawab sudah keanehan ayah dan ibuku tadi. Aku baru sadar kalau hari ini hari minggu.hehehhehehe…
            “Masak hari minggu gini aku mau berangkat sekolah  sih? Aduh kurang kerjaan banget deh?? Huft semua ini gara-gara senyuman itu!! sekarang pikiranku tambah konyol. Tapi kalau dipikir-pikir nggak papa sih,itung-itung buat semangat aku untuk pergi ke sekolah”  gerutuku dalam hati.
* * *
            Hari berlalu begitu saja. Kukuruyauk… ! suara ayam tetanggaku yang membisingkan telingaku dan membuat mimmpiku jadi nggak karuan.
            “addduuuh ini ayam akas bener sih!! Baru jam segini udah berkokok aja. Nggak ngantuk apa, kan kemarin ikut ngeronda gerutuku dengan muka masam.
            “ku rasa aku tlah jatuh cint, pada pandangan yang pertama.sulit bagiku untuk bisa berhenti mengagumi dirinya”. Cuplikan lagu yang kunyanyikan di kamar mandi.hehehe…
            Hari ini aku semangat sekali pergi ke sekolah karena itu artinya aku bertemu dengan senyum itu. Aku nggak sabar untuk cepat-cepat sampai ke sekolah dan bertemu dengan dia. Sampai saat ini pertanyaan yang kemarin beruntun di benakku belum terjawab. Sesampainya di sekolah aku mencari senyuman itu.
            “Aduh dimana ya dia?? Masak jam segini dia belum datang sih” tanyaku dalam hati. Beberapa menit kemudian,Teeett… bel masuk berbunyi. Tapi Vian belum juga muncul. Hatiku bertanya-tanya lagi, “kemana sih dia? Masak dia nggak masuk sekolah sih ? kalau bener dia nggak masuk sekolah, kenapa emangnya?” jam pelajaran berlalu begitu saja. Ternyata benar,hari ini Vian nggak masuk sekolah. Buktinya sampai jam akhir pelajaran bangku di belakangku masih kosong. Sedih rasanya, jadi hari ini aku tidak melihat senyuman itu.
            Sampai di rumah hatiku terus bertanya-tanya. Tapi tak  satupun pertanyaan itu tak dapat kutemukan jawabannya.
            “kemana yah kira-kira dia? Aduh,kenapa sih aku ini? Ngapain juga aku mikirin dia. Kurang kerjaan banget deh !” omelku sendiri.
* * *

Nggak ada sejarahnya kantin sekolah kosong di jam istirahat. Mendapatkan kursi kosong di kantin saat istirahat sama berharganya dengan mendapatkan kursi paling depan di konser artis beken. Orang bisa jadi sangat kreatif. Tak-tik basi sih, pura-pura kebelat waktu 5 menit sebelum jam istirahat trus izin ke belakang dan tidak balik lagi. Hehehe… konyol memang. Dan aku termasuk orang yang nggak mau buang waktu cari cara biar dapat tempat duduk. So what gitu lho…  kalau nggak bisa duduk di kantin? Di sekolah ini kan banyak kursi, di bawah pohon lah, di sisi lapangan lah.nggak perlu setres nungguin orang-orang egois yang biar makannya sudah habis, tetep saja ngendon di kantin sambil ngerumpi. Bikin rugi ibu kantin saja.
            Aku lebih suka duduk di bawah pohon besar, yang menghadap langsung ke lapangan basket. Tapi itu sebenarnya lapangan serba guna sih, bisa dibuat upacara,  lapangan basket, main bola, dan lain-lain deh. Pemandangannya indah, hari ini aku pun duduk di situ sambil makan gorengan bersama Dita, sahabatku sejak kelas 2. Dan sekarang jadi teman sebangkuku.
            “Dit,aku mau Tanya deh sama kamu”. “Tanya apa sih sayongz?” Dita menjawab sambil cekikikan. “ihh,kamu ngomong apa sih, akku masih normal tahu”
            “Dit,kamu tahu kan siapa yang duduk di bangku belakang kita?”
            “ya tau lah,itu kan Agus sama Ivan, kamu amnesia ya?”
            “aduh, Dita bukan itu maksudku!! Maksud aku,kamu ngerasa nggak ada amazing pada diri Vian?”
            “Hah Vian?? Hellow.. aku nggak salah denger kan? Apanya sih nggi’ yang amazing? Gag ada tau! Ada-ada aja deh kamu itu!!”
            “Ada tau Dit!! Kamu nggak ngrasa ya kalau dia senyum? Pasti ada yang beda!! Buktiin deh!!” jawabku sebagai pembelaan atas argumenku.
            “jawabannya tetep sam, NGGAK ADA ANGGI !!!” JAWAB Dita sambil teriak di telingaku.
            “Aduh Dita,jijik deh!! Gorenganmu tuh muncrat semua di pipiku”
            “Kya kak kak kak kak… mmaf-maaf sayongz,nggak sengaja aku tadi” jawab Dita sambil mengakak.Aku mencubit Dita dengan kesal.
            “iiih, kamu tuh gimana sih, selalu saja seperti itu!!”
            “Iya … iya…. Maaf sekali lagi aku kan nggak sengaja tadi, senyum donk sekarang”. Rayu Dita sambil mengelap pipiku yang habis dimuncrati gorengannya tadi.
            “Awas ya… kalau kamu ulangi lagi”
            “iya  iya aku janji deh nggak akan ngulangi lagi! Suer deh…” sahut Dita meyakinkan.
            “Ya sudahlah , kita ke kelas aja yuk! Lagian bentar lagi kan mau bel”
Bruuuuk..
            “Aduh Dita… hati-hati donk kalau jalan!! Kamu injek sepatu tadi. Gimana sih… barusan minta maaf tapi sekarang udah buat kesalahan lagi”. Aku mengomel sambil badanku terungkup.
            “Sini aku Bantu berdiri “
            “suara itu… sepertinya  aku kenal,tapi siapa ya??” tanyaku dalam hati.
“Ayo sini ulurkan tanganmu”. Ternyata saat aku menulurkan tanganku.. “Ya Tuhan, pemilik senyuman itu!”. Ternyata suara itu dari pemilik senyuman yang selalu terbayang dalam imajinasi mimpiku.
Jantungku terasa berhenti. Vian menolongku sambil tersenyum manis! Aku Cuma bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Aduh norak banget sih aku! Vian pasti Cuma ingin menolongku saja, karena biar gimana juga aku kan teman sekelasnya. Masa dia mau cuek aja, liat aku seperti tadi. Tapi.. tapi.. yuhuuu…! Vian menolonku. Dia kan jarang banget mengurusi urusan orang lain yang gak begitu dia kenal. Aku pun menuju kelas sambil nyengar-nyengir nggak jelas. Sampai-sampai aku lupa kalau di sampingku ada Dita.
* * *

Hari selasa pagi, perasaanku masih belum focus di sekolah. Maklum semalam aku bergadang melihat Word Cup. Aku memang doyan banget melihat sepak bola. Bahkan ketika bu Susi mengisi pelajaran jam pertama masuk kelas pun aku tak sadar.
            “Ini peraturan baru, kalian ganti teman sebangku, tiap dua minggu sekali!” kata bu Susi, berhasil menarik perhatianku. Huu.. huuu.  Huu.. sorak anak-anak.
            “Kan nggak jaman bu, sekarang peraturan seperti itu, kayak anak SD aja bu” cetus Agus teman sebangku Vian. “udah-udah nggak usah banyak omong, untuk seskang ini Ibu yang nentuin kalian duduk sama siapa saja!!”. Bu Susi mulai menukar-nukar tempat duduk kami. “Dita, kamu minggu ini duduk sama siapa ya?” bu Susi terlihat berpikir.
            “Emm.. kamu duduk sama Agus saja,tukar sama Vian,trus Vian maju ke depan sama Anggi”. Gleeek!!
            “Ayo Vian cepet kamu pindah sama Anggi”. Vian segera membenahi mejanya. Bu Susi kembali sibuk dengan anak-anak lain. Sedangkan aku sibuk menenangkan hatiku yang langsung kacau.
            Mimpi apa semalam? Aku duduk sebangku dengan Vian! Vian duduk di sebelahku. Aku nggak berani menatap dia langsung. Selama bu Susi mengajar, kami terus diam dan nggak saling bicara. Ya, dasarnya aku memang sulit ngomong sama orang yang nggak begitu aku kenal. Jadinya ya begini, diem-dieman. Sepi kayak kuburan.
            “Nggi, pinjem penghapus” kata Vian tiba-tiba. Bukannya menjawab, aku malah bengong. Malu- maluin banget nggak sih?
            “Anggi, pinjem penghapus!” ulang Vian.
            “Eh, ini ambil aja…” aku cepat menyodorkan tempat pensilku.
            Dadaku terasa lega ketika pelajaran bu Susi selesai. Vian juga terlihat lebih santai di sebelahku. Srrr… sekarang dadaku brdesis-desis. Perutku juga tiba-tiba terasa panas. Vian ternyata sedang menatapku. Aku langsung berpaling. Selintas kulihat dia pun berpaling. Duh.. konyol banget sih. Habisnya gimana,bukannya sok malu-malu, tapi aku memang malu!. Aku nggak kuat lihat matanya yang ngeliatin aku dengan tatapan yang.. gimanaaa gitu. Lembut dan bikin dadaku sesak.
            “kakimu sudah gak sakit lagi,kemarin habis jatuh?” Tanya Vian kepadaku. Aku menggeleng, “udah nggak kok,cuma memar sedikit dikit aja.
“Lain kali kalau jalan hati-hati dong”. Mendengar ucapan Vian yang barusan membuat hatiku makin nggak karuan. Aku tak bisa menyembunyikan pipiku yang mulai memerah.
“Nggi, sebenarnya aku pingin ngobrol banyak sama kamu! Emm, gimana ya kalau kita tuker-tukeran nomor hape aja, biar kita mudah untuk saling komunikasi”.
Vian kembali mengajakku bicara. Hmm, ternyata dia nggak terlalu pelit bicara juga. Aku pun hanya mengangguk malu.
“Ni nomer Hapeku, Vian menyodorkan hapenya ke tanganku. Aku pun hanya bengong menatap wajah Vian. Aduh, malu-maluin kan?.
“Hellow… teriak Vian sambil melambai-lambaikan tangannya di depanku. Sontak aku kagrt
“Owh, iya maaf. Mana coba ku lihat”
“Ini, Vian kembali menyodorkan Hpnya.
“Okelah aku simpan. Ku masukkan lagi hapekku ke kantongku. Vian melongo menatapku.
“Lho terus nomermu mana?”
“Oh iya aku lupu,ini nomerku”.
* * *

Ada nggak ya di dunia ini obat buat penyakit yang berhubungan dengan sama perasaan? Aku lagi butuh banget obat penyakit ge-er. Penyakit ini makin parah aja setiap harinya. Kok aku mulai merasa ge-er Vian ngasih perhatian lebih sama aku? Apa ini gara-gara duduk sebangku? Apa dia selalu begini kalau duduk sebangku sama cewek?
Coba, bagaimana aku nggak sampai punya pikiran kayak negitu? Beberapa kali aku memergoki dia lagi ngelihatin aku, lembut lagi! Matanya lebih redup dari biasanya, dan kalau aku pergoki, matanya langsung pura-pura sibuk ngelihatin sana-sini. Belum lagi dia bisa bicara terbuka sama aku semenjak kita tukeer-tukeran nomer hape. Padahal temen-temenku yang cowok aja bilang Vian itu pelit bicara kalau sama orang yang baru dia kenal. Itu kan artinya dia percaya denganku.
Pfuih.. aku jadi semakin sering panas-dingin nih! Pasti ini yang namanya cinta pertama. Aku nggak pernah suka sama cowok kayak begini sebelumya. Kalau Cuma komentar-komentar ih, gantengnya atau sebangsanya sih sering. Tapi sekarang rasanya berbeda.
Senakin hari semakin bisa melihat sosok Vian yang lain. Vian bukan Cuma si pemilik senyuman itu dan juga pemain bola yang cool, ia juga cowok yang humoris, lembut dan baik hati. Kalau dulu nilainya di mataku Cuma 8, sekarang aku kasih nilai 9,5 deh.
Bel masuk kelas berbunyi. Vian masuk kelas bersama Agus. Begitu duduk di sampingku dia menyuguhkan senyuman yang khas. Seketika membuat jantungku yang sudah jongkok-berdiri sejak tadi langsung scot-jump dengan kecepatan tinggi.
Entah siapayang memulai,tahu-tahu di kelas tersebar gossip bahwa Vian naksir aku! Yaps, its like a dream comes true. Kayak dapat durian runtuh. Tapi tetep yang namanya gossip ya gossip, Cuma berita boong dan bukan fakta. Beberapa menit kemudain “Stt…” Dita mencolekku dari belakang. Apaan sih?. “ini”,rupanya dia memberikan gulungan kertas padaku.
“Nggi,kamu suka sama Vian…?”  
Kata siapa sih? Kan itu Cuma gossip, jadi belum tentu itu benar enggaknya!
Aku nggak nanya itu benar enggaknya! Bantah Dita mengejutkanku.
“Lho terus maksudnya apa?” aku langsung menoleh ke belakang. Tapi Dita lagi-lagi menjawabnya di secarik kertas. Pokoknya pulang sekolah ditunggu Vian di pohon yang biasa kita buat nongkrong. Aku hanya menoleh kea rah Vian dengan heran. Tapi aku pun tak berani Tanya langsung ke dia.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Aku pun dan Dita menunggu Vian di bawah pohon besar samping lapangan sekolah.
“Eh,itu dia datang!” sesosok laki-laki muncul di hadapanku.
“Emm, udah menunggu lama ta? Vian terlihat basa-basi. Aku pun hanya menggelengkan kepalaku.
“Ya ezt, yang ditunggu kan udah tiba, aku tunggu di kantin aja ya,daripada aku di sini ngacang nggak jelas”
“Apaan sih Dit”. Pipiku langsung panas saat Dita ngomong seperti itu kepadaku. Hatiku mulai bertanya-tanya, aduh Vian ini mau Tanya apa sih?.
“Anggi,aku mau ngomong sesuatu ma kamu. Tanya Vian gugup kepsdsku.
“Heemb, mau Tanya apa?”
“Emm…”
“”Iya,emm… apa sih??” Vian mulai membuat aku penasaran.
“Kamu mau nggak ….” Tiba-tiba Vian menatapku hangat dan memegang tanganku. Sontak jantungku mulai beerdetak kencang dan mungkin Vian mendengarnya.
“Iya.. mau apa..”
Vian menelan ludah dalam-dalam… “Mau nggak kamu jadi pacarku??!”
Deg.. Ya Tuhan, Vian nembak aku. Aduh, aku harus bagaimana ini??
“Aku menarik nafas panjang-panjang,. “Aku juga suka sama kamu, tapi..”
“Tapia pa?” Vian kelihatan tegang menatapku.
“Tapi aku sebel sama kamu…!!!”, jawabku enteng.
“Sebel kenapa? Aku udah buat kesalahan apa?”
“Kenapa sih kamu nembaknya di bawah pohon ini? Kenapa ndak di tempat lain aja sih!! Asal kamu tahu dari tadi aku digigitin semut besar tahu!!” jawabku sambil mengambil semut yang ada di tanganku. Vian termangu lalu terdiam menatapku. Tiba-tiba dia tersenyum geli melihatku.
“Ih,kamu itu buat jantungku berhenti saj. Aku kira kamu nolak aku”
“Kamu tahu nggak sejak pertama aku melihatmu, senyummu selalu hadir dalam setiap imajinasiku. Ini semua bagaikan mimpi aja!! My dreans comes true!!”
“Kamu nggak mimpi tau!! Its real !!” Vian mencubit pipiku untuk menyakinkan bahwa ini kenyataan.
“Ih, sakit tahu!”
“Udah sadar kan, kalau ini nggak mimpi!!” Vian meyakinkanku sambil mengusap-usap kepalaku. Aku berharap hari ini tidak cepat berakhir. Tapi itu nggak mungkin lah.
* * *

Hari ini matahari bersinar cerah, secerah hatiku. Gimana aku nggak seneng? Hari ini aku genap 1 minggu aku jadian sama Vian. Walaupun Cuma baru 1 minggu tapi ini kan satu awal yang baik.
Sabtu, jam 5 pagi di kamar.
“Dret.. dret.. dret..” hpku bergetar.
“1 message received”, Hpku berkedip.
From: My Lovely. :Say, udah bangun belum? Kalau belum,ayo cepat bangun. Tuh lihat mataharinya sudah nggak sembunyi lagi tuh”. Aku pun langsung membalas sms dari Vian: “thank yach say, kamu udah bangunin aku. Have a nice day, yaudah aku tak mandi dulu”.
Balasan dari Vian: “emm, entar tak jemput ya!! Bye say..”
Tepat pukul 6:20 Vian udah di depan rumahku. Aku pun bergegas keluar.
“Hehehehe, nunnggu lama ya? Maaf ya”.
“Udah,nggak papa kok,yuk berangkat” aku pun ssegera mengeluarkan sepedaku, kemudian tiba-tiba…
“Lho, kita boncetan saja!”
“Emm, ya udah deh!” jawabku sambil nyengir. Heemb, tapi rasanya dunia tak mengijinkan kita barengkat bareng. Gimana nggak, di jalan ternyata sepeda Vian bocor. Aduh.. terpaksa deh kita jalan kaki, untung aja udah deket ama sekolah.
“say, maaf ya gara-gara aku kita jadi jadi jalan seperti ini!”
“Sttt, udah deh nggak usah ngomong seperti itu!” jawabku sambil membungkam mulut Vian. “Thank ya say..” jawab Vian sambil menatapku penuh hangat.
* * *

Senja menghiasi langit, seindah hatiku saat ini. Sore ini Vian mengajakku leluar. Emm, entah keluar kemana yang jelas saat ini hatiku sedang girang.Cihuiii….
“Mana sih, Vian katanya janjinya jam 15:00. sekarang udah jam 15:05 kok belum datang-datang sih!! Hih,nyebelin!!”. Lima belas menit berlalu begitu saja, “Haduh, jadi nggak sih?? Semprul… banget anak ini. Awas aja ntar kalau senyam-senyum gak jelas!! Pingin aku jitak aja!! Huh…!!” geerutuku dalam hati.
“Ciiiitt,” suara merdu rem sepeda motornya Vian.
“Say, maaf ya aku telat” sapa Vian sambil meringis.
“Owh..”
“Lho kok owh sih  jawabannya??..”
“Trus mau dijawab gimana emangnya?” jawabku sewot.
“Lho say, aku minta maaf . aku tadi disuruh jaga adikku bentar . beneran deh, aku nggak bohong!! Suer deh!!” jawab Vian sambil memohon-mohon.
“Truszz… aku percaya begitu saja? Menurutmu aku anak kecil gitu bisa dibohongi seenak udelmu!!”
“Ya wes… teserah percaya atu tidak, sekang maunya apa deh biar dimaafin?”
“Hahaha…”
“Kok malah tertawa sih? Berarti udah maafin aku ya??”
“Ih, pede amat Lu! Sapa juga yang mau maafin !! kalau semua kesalahan diselesaikan dengan jalan minta maaf, trus gunanya polisi apa?
“ya ampun say, masak tega sih kalau aku dipenjara??”
“Ya kamu sih datangnya telat. Kamu kan tahu aku nggak suka sama orang yang ngaret” aku pun mencubit tangan Vian kesal.
“Ya ezt aku M Zain Alvian tidak akan telat lagi, SUER!!!  Sambil mengacungkan tangannya membentuk huruf “V”.
“Kali ini aku maafin, tapi lain kali jangan harap ya !! ingat itu!!.”
“Sip bos !!”
“Ih, apaan sih” aku pun mulai tersenyum mendengar dia meluconiku.
“Aduh kalau tersenyum tambah manis deh”
“Mulai deh ngegombalnya”
“Aku nggak ngombal sayangku”
“Udah cukup ngegombalnya, sekarang mau kemana?”
“Emm, kemana ya? Mau tau aja, pokoknya cepetan naik deh, dijamin kamu pasti suka”
“Ih Pede”
“Biarin,udah yuk cepetan naik”
“Ya.. iya sabar dikit napa”
“Udah ni ,gag pegangan? Ntar jatuh lho”
“Ngarep deh!”
“Hehehe,peace aku bercanda kok”
“Udah, ayo cepetan!” sambil memukul pundak Vian ala tukang ojek.
“Sabar non, ini bang Vian mau meluncur”
Nngeeengg.. Vian pun melaju ala iklan Yamaha.
“Aduh, aku takut odong!, jangan ngebut-ngebut” protesku.
“Udah, diem aja deh, biar cepet sampai”
“Ciiitt..”
“Ayo turun!”
“Ngapain ke sini?” tanyaku heran.
“bentar ya, jawab Vian sambil membuka bagasi motornya.
Tteeettt… laying-layang?? Kali ini Vian benar-benar membuatku terkejut. Bagaimana gag kaget, tadi siang katanya pingin ngajak aku makan, eh ternyata ngajak aku main layang-layang. Tapi nggak papa sih, mungkin main layang-layang asyik juga.
“Let’s go sayang” sambil menggandeng tanganku. Walaupun kita udah pacaran hampir 2 minggu, tapi setiap Vian menggandeng tanganku, rasanya tulangku rontok semua karena tidak bisa menahan detak jantungku yang kencang.
“Say, makasih ya kamu kamu selalu buat kejutan ke aku”.
“Okey say” sambil mencubit hidungku. Mungkin biar mancung kali. Hehehe…
* * *

“Dreeett… dreettt.. dreet…” Hp ku bergetar. Sms dari Vian.
“Say, keluar deh ke depan”
Aku pun langsung keluar setelah membaca sms dari Vian. Tapi anehnya di luar nggak ada siapa-siapa. Kali ini hatiku mulai bertanya-tanya “maunya apa sih anak ini?”. Satu menit kemudian Vian mengirim sms lagi. “Say, udah keluar ya? Emm, sekarang lihat ke atas deh!”. Aku pun segera membalasnya
 “Ngapain sih?” Tanyaku heran. “Lihat itu.. langitnya cerah banget, indah kan.. bintangnya banyak banget. Kalau ada bintang jatuh, pingin deh aku Make a Wish biar kita selalu beersama seperti bintang yang selalu setia menemani bulan biaarpun mendung menghalanginya tapi keduanya teap bersama”.
            Ya Tuhan, Vian so sweet banget sih, dadaku langsung hangat. Pipiku langsung panas.
* * *

“Pgi anak-anak” sapa Bu Indah sok ramah. Bu Indah adalah guru  matematika yang super dupper Killer. Gimana nggak Killer, tiap pelajaran langsung anak-anak dibuat seperti patung. Tiap kali ada salah satu anak yang ngomong,. Udah.. keluar ayat-ayat dari mulutnya. Anak-anak paling anti denger omelan bu Indah. Suaranya yang super cempreng bikin ogah anak-anak untuk dengerinnya. Udah gitu cerewet lagi.
            Okelah, banyak yang mengomeliku tentang perkataanku barusan. Pasti banyak yang bilang aku nggak bersyukur. Di luar sana banyak anak-anak yang nggak bisa sekolah karena tuntutan ekonomi. Tapi percaya deh, coba dua kali pertemuan saja mengikuti pelajaran maematika di sekolahku. Kalian mungkin akan datang mencariku sambil berteriak “kamu bener Anggiii. Seratus persen benar!!!! Aku nggak tahan mengikuti pelajaran matematika di sekolahmu!!”.
            Gilanya di saat jam pelajaran berlangsung, dengan santainya aku ngelamun nggak jelas. Sontak saja “pluukk” penghapus papan melayang di jidatku seketika itu.
“Braakk.. kak.. kak.. kak..” anak –anak langsung menertawakanku. Ya ampun betapa tololnya aku.
“Kalau kamu nggak mau mengikuti pelajaran saya,bla… bla… bla… silahkan kamu keluar!”. Anak-anak pada menutupi telinganya masing-masing. Tiba-tiba saja “Tunggu bu, Anggi keluar aku juga ikut keluar” seru Vian yang membuat aku semakin jantungan. Kali ini aku bener-bener ngelihat perhatian Vian yang sesungguhnya. Dia rela berkorban apa aja demi aku. Oh… Tuhan harus gimana aku?.
“Nggak bu, biar saya saja yang keluar, asal jangan Vian” celetukku.
“Nggak bu, biar saya saja”, Vian meyakinkan bu Indah.
“Nggak bu, ini nggak adil buat Vian, soalnya saya yang berbuat kesalahan bukan Vian jadi sepantasnya saya dihukum”
“Owh… Soo… Sweeet…” seru anak-anak kompak.
“udah-udah diam semua!!!” kali ini bu Indah marah banget. Sampai-sampai mmulutnya mengeluarkan api. Hiiii seram.
“Sudah bu, biar saya saja yang keluar asal jangan Anggi”
“Vian, kamu denger nggak sih apa yang saya bilang tadi?!!!! Diam!! Nggak ada yang keluar dari pelajaran saya. Anggi kali ini saya maafkan, tapi lain kali jangan harap!! Kata bu Indah sambil melotot ke arahku.
* * *

Waktu pulang sekolah..
“Say, nanti anterin aku beli buku bentar ya?!” pintaku.
“Emm, maaf ya say kali ini aku nggak bisa antar kamu pulang, soalnya aku ada latihan sepak bola buat tanding bulan depan.
“Owh, gitu ya. Yaudah deh aku sama Dita aja”
“Maaf ya say” jawab Vian.
“Iya say.. nggak papa kok, owh iya soal yang di kelas tadi aku minta maaf ya soalnya gara-gara aku kamu ikut dimarahi sama bu Indah. Habisnya kamu sih, sok-sok an belain aku”.  “Iya nggak papa kok. Lagian mana tega sih, aku lihat pacar aku dihukum sendirian”
“ya ampun, makasih ya say”
Tiba-tiba di saat asyiknya kita ngobrol, eh tiba-tiba nongol si Agus di belakangku.
“Ceile… makin mesra aja deh!” celetuk Agus mengagetkanku.
“Apaan sih! Kataku sambil tersipu malu-malu. Hihihi…
“Udah ya sob, pcarannya di pause dulu. Sekarang kita waktunya latihan dulu!!” ajak Agus.
“West, ya say, aku mau latihan dulu! Hati-hati di jalan ya..”
 Vian melambaikan tangannya dan memberikan kiss bye kepadaku. Aku pun membalasnya.
* * *

            Satu minggu berlalu..
            Trrrrttt…
            Telepon genggam di sakuku bergetar. Biar kuno, telepon genggamku ini pemberian Ayah tersayang. Aku nggak peduli kamera, lagu, atau fitur canggih lainnya. Yang penting aku bisa telepon dan kirim pesan teks. Cepat ku angkat telepon sambil menunduk, takut kelihatan guru. Kemarin bu Susi sudah memberi peringatan terakhir, kalau sampai ketahuan bawa hape lagi, aku bakalan kena skors. Tapi zaman begini, siapa sih yang bisa hidup tanpa hp?
Aku sudah menduga siapa yang nekat menelepon jam segini.
“Hallo, kenapa say?” sapaku.
“say.. hari ini kita nggak bisa pulang bareng lagi”
“Hah,kenapa lagi sih? Ngapain? Kemarin nggak bisa, eh.. sekarang kok gak bisa lagi sih??”
“kamu kan tahu sendiri tadi itu aku disuruh bapak Kepala Sekolah untuk ke DINAS, jadinya ntar kita nggak bisa pulang bareng lagi”.
“terserah kamu, aku nggak peduli lagi”, kemudian aku menutup telepon dengan kesal.
Trrrtt……. Telepon genggamku kembali berbunyi. Pasti Vian telepon aku lagi. Tapi aku tak menjawabnya. Aku merejeck ha-pe ku.
Dreeettt… drettt.. dreett…
Telepon genggamku bergetar kembali. Tapi kali ini  SMS, tidak lagi telepon. Segera ku buka. Eh…. Ternyata dari Vian.
“Say, kamu marah ya? Maaf deh, tapi kali ini benar-benar kebutuhan yang mendesak”. Aku menutup kembali ha-pe ku. Meskipun Vian berulang kali menelepon dan SMS aku, tapi aku teap kekuh dengan pendirianku.
* * *

“Tumben kok sekarang nggak bareng Vian? Emm.. kok sekarang kamu jarang ya, pulang bareng dia. Da masalah?”
“Gak tau ah.. udah, aku pulang dulu!” kataku dengan nada cuek. Tapi sebenarnya aku ingin curhat ke Dita sih, Cuma sekarang waktunya lagi nggak tepat. Mungkin besok aku aku beri tahu dia kalau aku sudah siap.
“Eh… tunggu dulu,! Ngapain sih kok buru-buru amat?” jawab Dita sambil memenarik tanganku. Tapi aku tetep aja nyelonong pergi.
“Aneh banget tuh anak, dari tadi mukanya ditekuk aja. Ada apaan sih sebenernya? Gerutu Dita dalam hati. Dia shock melihat perlakuanku berusan. Karena biasanya aku tidak pernah seperti itu sikapku ke dia. Yeah.. mungkin CINTA  yang mencuci otakku., jadinya aku seperti ini. Melihat kejadian hari ini, aku menarik kesimpulan bahwa CINTA itu bisa membutakan semuanya. Tapi CINTA itu juga bisa buat hidup kita lebih berwarna. CINTA  juga butuh sebuah pengorbanan, karena tanpa pengorbanan kita takkan menemukan arti cinta sesungguhnya. Tapi CINTA itu juga menyakitkan bila seseorang yang kita sayangi tak merasa betapa istimewanya dia di hati ini. Dan pada akhirnya CINTA itu anugerah teridah dari Tuhan untuk setiap insane manusia.
Sanpai sore ini Vian belum SMS atau telepon aku. Hufh.… sebel  sih sebenarnya. Tapi aku kan juga gengsi masak aku yang SMS dia duluan. Apa kata dunia??
“Apa sih maunya nih anak? Awas aja ya…kamu!!! Hiiih… nyebelin!!” omelku sendiri di dalam kamar.
Dreett.. dreett…dreettt…
Hapeku bergetar… “Say, kamu masih marah ya..?” maaf banget ya..!! pliss”. Hatiku sempat tergoda sih, tapi aku juga masih marah sama dia. Enak aja setiap masalah diakhiri dengan 4 huruf, yaitu M.A.A.F. tapi bukannya aku tipe orang yang pendendam, sih, aku Cuma ingin dia intropeksi atas kesalahannya.
  Dreett.. dreett…dreettt…
Hapeku bergetar terus. Huft.. ternyata Vian masih belum menyerah juga. Kasihan juga sih, tapi kalau aku dengan mudah maafin dia. Ehh.. ntar dia malah mengulangi kesalahan yang sama. Aku nggak mau kalau itu terulang lagi.
“Aduh, jahat banget sih aku!. Masak sampai segitunya aku nggak mau maafin dia?”

Tiba-tiba terdengar suara nyanyian…
“Apa yang harus aku lakukan…  untuk membuat kau memaafkanku… segala upaya tlah ku lakukan untukmu… hohohoo karna aku mencintaimu… dan hatiku hanya untukmu.. seumur hidupku… setulus hatiku… hohhohohooo….”
Langsung aku mencari sumber suara itu, eh… ternyata Vian. Suara itu adalah nyanyian dia untuk aku. Dia bernyanyi di depan rumah, di atas sepedanya sambil memegang gitar. Owh.. so sweet…
“Akhirnya kau keluar juga, masih marah sama aku ya? Kok sms ku gak dijawab dari tadi sih??”
”Kalau iya, emangnya kenapa?” jawabku sewot.
“Yaudah aku nyanyi lagi”
“Terserah!!” sebenarnya sih aku udah nggak marah sama dia. Habisnya dia tadi udah meluluhkan hatiku dengan suara merdunya. Aku ingin dia nyanyi lagi. Hehehehe.. lagian aku nggak munak kok, cewek mana sih yang nggak luluh hatinya setiap denger cowoknya nyanyi buat dia.
“Kamu yang kini memikat hatiku..sungguh ku ingin lebih dekat denganmu…
beri aku waktu tuk buktikan kepadamu… sungguh ku ingin memiliki hatimu…
semakin ku memikirkanmu , semakin ku menggilaimu. kau bintang di hatiku
terangi setiap langkahku…
 masih marah sama aku?”
            “masih!”
            “Hah??? Say.. kumohon jangan marah donk sama aku!! Pliss..”
            “Maksudku, aku masih  pingin denger kamu nyanyi odong…” vian tak menatapku percaya.
            “Jadi sekarang nggak marah lagi??” Vian bertanya sembari mecolek aku. Aku pun hanya menjawabnya dengan senyuman.

      * * *
            Aku nggak tau mimpi apa aku kemarin. Tiba-tiba kelasku gempar kalau Vian selama ini boongin aku. Dia nembak aku gara-gara taruhan sama geng bolanya. Sontak aku pingin nangis sekeras-kerasnya saat itu juga. Baru saja kemarin da nyanyi buat aku, rasanya ini seperti mimpi buruk. Aku pingin cepet-cepet bangun dari mimpi ini. Aku ingin menyudahi semua mimpi-mimpi ini. Hhooaa… apa yang sebenarnya terjadi?? Aku langsung duduk lemas di bangkuku.
            “Udah ya, kamu kan belum tahu atu benar atau tidaknya. Dulau kamu pernah bilang sama aku, bahwa gossip itu belum tentu bener kan? Kamu nggak lupa kan? Ayolah Anggi, kamu jangan kayak anak kecil seperti ini.. mungkin ada orang yang sirik sama kamu dan Vian. Untuk lebih tepatnya ntar kalau Vian datang kamu Tanya langsung ke dia. Tappi inget jangan ada emosi lho!! Ssetiap masalah gak kan sselesai kalau dengan emosi. Itu malah memperburuk keadaan”. Dita mencoba menghiburku. Aku tidsk menjawab sepatah katapun. Aku hanya diam seribu bahasa. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Vian datang.
            “Pagi say..” Vian menyapaku dengan senyumannya yang khas. Seolah-olah dia nggak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Aku tetap diam seribu bahasa.
            “Kenapa say, ada masalah apa sih? Pagi-pagi kok udah ditekuk mukanya?? Sakit ya say??” kata Vian sambil memegang keningku. Sepertinya dia khawatir, tapi aku tetap diam seribu bahasa.
“Kenapa Dit, kok Anggi kelihatan murung?” Vian mencoba Tanya ke Dita. Tapi Dita Cuma menggelengkan kepalanya. Sepertinya Dita tidak mau ikut campur terlalu dalam. Pelajaran berlalu begitu saja. Tapi sepertinya gossip tadi seakan menghinoptisku. Sampai istirahat pun aku diam seribu bahasa.
“Say, ada apa sih, dari tadi kok diam saja?? Istirahat bareng yuk.. “
“Eh, loe jangan pura-pura nggak tau !! aku menjawab sambil mendorong Vian sampai jatuh. Sontak Vian kaget dan menjawab “kamu ini  kenapa sih? Aku beneran nggak ngerti maksud kamu!!!”. Vian kelihatan tegang dan kaget. Aku pun ngelonyor pergi sambil menyiram air di mukanya. Byyuuurr… sepertinya Vian marah banget sama aku. Sampai-sampai dia bilang teriak-teriak sama aku. “Apa ini namanya rasa sayang kamu sama aku??” aku hanya lari sambil meneteskan air mata.
* * *

“Anggi! Aku nggak nyangka kamu kayak gitu! Aku bener-bener kacewa sama kamu. Munafik tau!! Tiba-tiba saat bel masuk Agus ngomong seperti itu sama akku.
Aku melotot, bingung.. ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Agus marah sama aku. Emm.. apa jangan-jangan soal tadi aku mendorong Vian sampai jatuh dan menyiram air .
“Apaan sih Gus? Kamu ngmong apa sih? Siapa yang munafiK?”
“Kamu!! Kamu munafik banget! Kenapa sih, kamu sakiti Vian? Aku tau sebenarnya kamu sangat sayang sekali sama Vian. Tapi kenapa kamu lakuin seperti ini sama Vian? Tega banget kamu!! Jahat, tau nggak kamu!!”
“Hah?? Aku munafik? Nggak salah tu? Bukannya eLo dan dia yang munafik?? Aku dah tau semuanya Gus!! Vian sengaja deketin aku karena taruhan sama geng bolamu!! Iya kan??? Sekarang siapa yang jahat, tega dan munafik!!” jawabku lantang.
“Ohh, ternyata pikiranmu itu picik banget Nggi!! Kalau kamu tahu yang sebenarnya, bakalan nangis darah kamu!!”. Agus meninggalkanku seetelah mengucapkan itu kepadaku. Kata-kata Agus yang terakhir membuatku kepikiran terus. Kamu bakalan nangis?? Apa coba maksudnya??  Ah mingkin itu hanya skenario Agus aja.
Setelah kejadian tadi, ssepertinya Agus dan Vian bolos. Dia nggak masuk kelas, buktinya bangkunya masih kosong. Aku ingin masalah ini cepat selesai. Nanti pulang sekolah aku akan minta penjelasan sama dia.
* * *

Bel pulang berbunyi. Teett… waktunya aku minta kejelasan sama dia.aku masih menunggu di kelas sendirian sampai Vian datang untuk mengambil tasnya di kelas.
“Prok.. prokk.. proook..” suara apa itu?
“Ternyata si tukang munafik itu masih ada di sini”. Suara Agus yang lantang mengejutkanku.
“Eh loe, gua nggak punya urusan sama situ!!
“Ow… ow… ow.. Aduh takut. Hahaha.. gua nggak takut sama situ, ngerti nggak loe!!”
“Sudah.. Gus ini masalahku sama dia.!!” Teriak Vian sontak mengejutkanku. Karena selama ini aku nggak pernah melihat dia semarah ini. Agus pun ternyata nurut sama perkataan Vian. Dia meninggalkan aku dan Vian di sini. Heemmb… waktunya sidang dimulai!!
“Sekarang kamu mau apa?” Vian menatapku tegang.
“Hahaha.. kamu masih belum tahu apa mau aku?? Prok.. prok.. prok… bagus ya, mau aku putus munafik!! Aku nggak nyangka kamu setega ini sama aku. Ternyata kamu nggak lebih dari seorang pecundang!1 basi tau nggak!!”. Pembukaan sidang yang ku buka cukup pedas.
“Ow.. ow… ternyata kamu udah tau semuanya ya. Hahaha.. bagus deh aku memang taruhan sama temen-temenku. Puas sekarang?? Dasar bodoh!! Mau aja aku bohongin!!”
Deg.. pengakuan Vian membuat air mataku tak bisa ku bendung lagi. “Kamu jahat, suatu saat Tuhan pasti membalas perbuatanmu”. Praakk.. aku menampar Vian dan meninggalkannya begitu saja. Lagi-lagi aku berlari sambil menangis. Aku tak kuat membendung air mataku lagi.
* * *

Kejadian sore tadi enggan membuatku keluar kamar. Aku terus terdiam diri di kamar. Lupain Vian!! Aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan Vian. Tih semuanya udah kebongkar semua.
Dret… drett.. dret.. hapeku bergetar. Ternyata dari Agus. “Nggi,aku pingin ketemu kamu sekarang! 5 menit lagi aku jemput!!”.
5 menit kemudian.. “Ayo Nggi cepat naik! Dan jangan banyak protes!!” aku pun langsung naik.. sepertinya aku ssudah terhipnotis oleh kata-katanya. “ini mau kemana sih?” Agus tak menjawabnya dia hanya diam saja.
10 menit berlalu.. “Ngapain kita kesini?”
“Nggak usah banyak ngomong!!” Agus mengajakku ke ssekolah. Aduh, serem banget, ssepi lagi.
“Aku takut Gus”.. 
“Liaat tuh siapa itu yang kamu bilang pengecut, munafik, dan jahat!!” agus menunjuk sesosok laki-laki yang duduk di bawah pohon besar.
Yeah… kalian benar, pohon tempat Vian menyatakan perasaannya. Dan sosok itu adalah Vian. Vian pemilik senyuman itu. Vian si pecundang dan Vian yang sudah buat aku hncur.
Sana kau temui dia” kata Agus. Tanpa berpikir panjang aku langsung menemui dia.
bjkh“Ngapain kamu disini?” tanyaku pada sosok itu. Aku kaget, Vian langsung memelukku erat-erat dan menangis.
“aku minta maaf Nggi… aku tahu kalau kesalahanku ini sangat fatal. Mungkin sulit untuk dimaafkan. Tapi asal kamu tahu slama ini aku nggak pernah bohongin perasaanku. Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kehilangan  kamu. Aku memang taruhan sama temenku, tapi jujur aku tak pernah sedikitpun permainin cinta kita. Hiks.. hiks… hiks.. aku mohon! Maafin aku..”
“Lihat aku Van.. aku sudah maafin kamu”. Aku sekali lagi mencoba untuk meyakinan Vian.
“Jangan kau sesali keputusanmu.. ku tak ingin kau semakin terluka.. tak ingin u lebih bak lupakan ini semua…  Berakhirlah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi.. Sekali aku pun tak pernah mencoba tuk kembali kepadamu… sejuta kata maafkan rasakan percuma… ku rasa aku mati tuk menyadarinya… Spesial song buat kamu. Jadi sekarang hapus air mata di pipimu”.
Aku mencoba untuk menhibur Vian. Mungkin dengan nyanyian tadi, Vian mengerti akan posisiku.
“Aku nyesel Nggi.. aku ngelakuin semua ini sama kamu. Tapi jujur sekali lagi aku tegaskan, aku nggak pernah mempermainkan perasaan ini!!”
“ya udah.. aku pulang dulu. Mungkin lebih baik kita temanan saja”. Aku pun meninggalkan Vian yang tunduk sembari menyesali ini semua. Lagi-lagi aku tak kuasa membendung air mataku.
“Aku.. akan tunggu kamu! Sampai kamu benar-benar bisa maafkan aku.. I love you….

Tiba-tiba Vian berteriak seperti itu sama aku. Yang tambah membuat membanjiri air mata di pipiku. Ternyata CINTA itu butuh pilihan. Dan aku melmilih untuk mengakhiri semua ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemukan arti cinta yang lain hingga ku menemukan C.I.N.T.A S.E.J.A.T.I.K.U.    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Juni 2013

Apa yang aku rasakan malam ini, berasa makan gado-gado. Hehe macem-macem. Kaget, bingung, seneng, dan ga percaya. Ntah ini mimpi atau apa sehingga aku tak dapat menggambarkannya secara nyata. Nadiku serasa berhenti beberapa detik saat ku membaca pesan singkat darimu. Mungkinkah aku hanya Gede Rasa doang?? Ini terlalu mendadak untuk aku ketahui. Sekian lama aku berteman denganmu aku tak pernah merasakan adanya perlakuanmu yang spesial untukku. Semua terlihat biasa saja. Atau mungkin aku saja yang bodoh yang tak peka dengan perasaanmu. Begitu piciknya aku yang tak menyadari adanya sosokmu di kehidupanku. Mungkin saat itu aku sedang dibutakan dengan “Cinta  Konyolku”. Yah, mungkin aku menyebutnya seperti itu. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku yang selalu kacau, aku yang ga peduli dengan perhatian-perhatian kecilmu dan aku yang sangat sibuk mempertahankan “cinta konyolku”. Gimana ga konyol?? Aku suka dengan seseorang yang jelas-jelas aku mengetahui arah perasaannya pada seseoran...

Moment Lebaran

Lebaran kai ini beda dengan lebaran tahun sebelumnya. Dibilang spesial juga nggak, tapi dibiang gak spesial nggak juga (bingungung ya hehe). H-2 Lebaran bukannya sibuk buat prepare menyambut hari sakral tersebut, aku malah lagi sibuk-sibuknya buat ngerjain tugas ospek. Fyuhh... Rasanya tiap hari ga bisa tidur nyenyak, tugas ospek selalu mampir di setiap mimpiku. Sialan! Gak pandang bulu juga, ntah itu mimpi baik atau mimpi buruk. Selalu mampir deh tuh tugas. Walau hanya sekedar mengucap “assalamu’alaikum”. Hidup dalam bayang-bayang tugas itu rasanya.... bagai kepleset di tepi jurang terus masuk ke hutan rimba dan akhirnya jatuh di perkampungan rimba yang isinya para tarzan dan binatang buas. Hhiiiii... seremm! Tiap hari harus rela begadang demi mencari inspirasi (duh.. kayak pencipta lagu :D). UB bikin ribet nih tugas ospeknya, di suruh ngarang “mengapa memilih Ub-lah” kalau di suruh jawab sih, takdir paleng hehe. Tapi lepas dari itu semua memang aku pingin masuk UB. Tahu kena...

Gatau Judunya apa :)

Pernahkah kau merasakan hebatnya Cinta?? Ketika engkau tetap tersenyum saat terluka. Ketika engkau tetap tersenyum walau di dalam hati menangis. Ketika engkau tetap tersenyum di saat perpisahan. Jujur aku pernah merasakanna...!!!!! Tapi aku mampu tersenyum walau hai terluka. Karena aku yakin Alah tidak menciptakan dia untukku. Aku juga pernah tersenyum manis ketika berpisah dengannya. Karena sekali lagi aku percaya Cinta tak Harus Memiliki. Dan aku yakin Allah pasti telah menciptakan cinta yang lain untuk ku. Jujur pula aku tetap bisa mencintainya. Meki dia tak dapat ku rengkuh dalam kehidupanku. Karna Cnta memang bukan hanya ada di dalam Raga, akan tetapi selalu bersemayam di dalam JIWA.