Langsung ke konten utama

Untukmu, Yang Kusebut Diam dalam Do’a

Halo, kamu yang akhirnya berhasil membuatku mencinta. Sudikah kiranya kamu mendengar cerita?
Sejak pertama kali kita bertemu, sesuatu yang “salah” terjadi pada diriku. Bukan dalam artian buruk, tentunya. Justru ini adalah jenis “kesalahan” yang aku suka. Suka tidak suka, dirimu ada dalam kepala.
Meski kamu belum tentu sudi menerima kehadiran perasaan ini, izinkan aku untuk mencurahkan melalui tulisan sederhana yang mungkin bahkan tak akan pernah sempat kau baca.

Tahukah Kamu Bahwa Kehadiranmu Begitu Menyedot Perhatian?

Aku bukanlah orang yang gemar menaruh perhatian kepada orang lain. Terlalu sibuk mengejar mimpi dan asik dengan duniaku adalah agenda kehidupan yang tak pernah ingin kukhianati. Bagiku hidup adalah proses membentuk diri. Setengah mati aku berusaha menyingkir dari roman percintaan. Tak ada gunanya menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk menjadi pekerja cinta. Sudah banyak contoh orang yang dibuat kecewa.
Di awal perjalanan semuanya masih dapat kukendalikan. Semua itu kujalani dengan penuh sadar, sampai pada saat kamu datang membalik keadaan. Mengacak-acak semua tujuan hidup yang sedang diperjuangkan. Kamu merusak ‘aturan’ hidup yang kubuat sendiri.

Walau Sampai Hari Ini Penaklukan Hatiku Olehmu Masih Menjadi Sebuah Misteri, Aku Bisa Menerimanya Tanpa Perlu Bertanya Lagi

Harus kuulangi bahwa jatuh cinta padamu adalah sebuah realita yang tak pernah kurencanakan. Sama seperti datangnya rezeki dan kemalangan, sebagai manusia aku hanya bisa menerima segala penentuan. Aku hanyalah lakon dalam penggalan drama kehidupan ini dan sebagai sang sutradara Ia berhak menentukan segalanya. Ya, termasuk juga menitipkan rasa kasih yang datangnya tiba-tiba.
Di satu sisi aku merasa bahagia karena akhirnya masih layak merasa cinta. Namun di sisi yang lain ada pertanyaan tersimpan yang sejujurnya ingin sekali aku tanyakan. Apakah kau di sana menyimpan rasa yang sama? Apakah kamu juga menaruh perhatian yang sepadan? Atau, apakah pernah sosok diriku muncul di pikiran?

Ini Adalah Cerita Tentang Rasa yang Tengah Kuperjuangkan, Tanpa Tahu Bagaimana Akhirnya Akan Dituntaskan

Ribuan pertanyaan tentang perasaan yang terus bergelayut di pikiran ini diam-diam mulai kususun dalam doa. Merangkainya menjadi kepingan permohonan panjang kepada Tuhan, agar ia tak lupa menitipkan rasa yang sama. Setiap waktu aku bertekun, bertelut, dan melipat tangan jika pasangan jiwa yang telah dipersiapkan adalah kamu yang kini namanya senantiasa kurapal dalam doa malam. Segenap doa ini aku ucapkan dengan penuh kerendahan, berharap suatu saat waktu kebersamaan kita akan datang.
Jika waktu itu sudah tiba, akan kupastikan aku siap menyambutmu dengan tangan terbuka. Kesederhaanmu yang membuatku jatuh cinta sudah sepatutnya disambut dengan penuh sukacita. Terimakasih telah menghadirkan dunia tak pernah diduga sebelumnya. Kamu adalah kejutan dari Tuhan yang sebenar-benarnya.

Dariku, yang senantiasa menyebut namamu dalam doa









Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Juni 2013

Apa yang aku rasakan malam ini, berasa makan gado-gado. Hehe macem-macem. Kaget, bingung, seneng, dan ga percaya. Ntah ini mimpi atau apa sehingga aku tak dapat menggambarkannya secara nyata. Nadiku serasa berhenti beberapa detik saat ku membaca pesan singkat darimu. Mungkinkah aku hanya Gede Rasa doang?? Ini terlalu mendadak untuk aku ketahui. Sekian lama aku berteman denganmu aku tak pernah merasakan adanya perlakuanmu yang spesial untukku. Semua terlihat biasa saja. Atau mungkin aku saja yang bodoh yang tak peka dengan perasaanmu. Begitu piciknya aku yang tak menyadari adanya sosokmu di kehidupanku. Mungkin saat itu aku sedang dibutakan dengan “Cinta  Konyolku”. Yah, mungkin aku menyebutnya seperti itu. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku yang selalu kacau, aku yang ga peduli dengan perhatian-perhatian kecilmu dan aku yang sangat sibuk mempertahankan “cinta konyolku”. Gimana ga konyol?? Aku suka dengan seseorang yang jelas-jelas aku mengetahui arah perasaannya pada seseoran...

Moment Lebaran

Lebaran kai ini beda dengan lebaran tahun sebelumnya. Dibilang spesial juga nggak, tapi dibiang gak spesial nggak juga (bingungung ya hehe). H-2 Lebaran bukannya sibuk buat prepare menyambut hari sakral tersebut, aku malah lagi sibuk-sibuknya buat ngerjain tugas ospek. Fyuhh... Rasanya tiap hari ga bisa tidur nyenyak, tugas ospek selalu mampir di setiap mimpiku. Sialan! Gak pandang bulu juga, ntah itu mimpi baik atau mimpi buruk. Selalu mampir deh tuh tugas. Walau hanya sekedar mengucap “assalamu’alaikum”. Hidup dalam bayang-bayang tugas itu rasanya.... bagai kepleset di tepi jurang terus masuk ke hutan rimba dan akhirnya jatuh di perkampungan rimba yang isinya para tarzan dan binatang buas. Hhiiiii... seremm! Tiap hari harus rela begadang demi mencari inspirasi (duh.. kayak pencipta lagu :D). UB bikin ribet nih tugas ospeknya, di suruh ngarang “mengapa memilih Ub-lah” kalau di suruh jawab sih, takdir paleng hehe. Tapi lepas dari itu semua memang aku pingin masuk UB. Tahu kena...

Gatau Judunya apa :)

Pernahkah kau merasakan hebatnya Cinta?? Ketika engkau tetap tersenyum saat terluka. Ketika engkau tetap tersenyum walau di dalam hati menangis. Ketika engkau tetap tersenyum di saat perpisahan. Jujur aku pernah merasakanna...!!!!! Tapi aku mampu tersenyum walau hai terluka. Karena aku yakin Alah tidak menciptakan dia untukku. Aku juga pernah tersenyum manis ketika berpisah dengannya. Karena sekali lagi aku percaya Cinta tak Harus Memiliki. Dan aku yakin Allah pasti telah menciptakan cinta yang lain untuk ku. Jujur pula aku tetap bisa mencintainya. Meki dia tak dapat ku rengkuh dalam kehidupanku. Karna Cnta memang bukan hanya ada di dalam Raga, akan tetapi selalu bersemayam di dalam JIWA.